Rabu, 16 Februari 2011

BICARA KETIKA SOLAT MNYBUT KALIMAH ALLAH

Jika seseorang itu menyebut ‘ALLAH’ secara lisan ketika solat yang mana sebutan tersebut tidak termasuk dalam bacaan solat, adakah batal solatnya? Begitu juga dengan sebutan-sebutan yang lain seperti ‘astaghfirullah’, ‘subhanallah’, adakah batal solatnya?

jawapan:


Bismillah
Wassolatu wassalam ‘ala Rasulillah SAW,
Sebutan seperti ‘Allah’, ‘astaghfirullah’ dan ‘subhanallah’ adalah termasuk dalam kategori doa dan zikir yang tidak membatalkan solat.
Ini jika sebutan itu dengan tujuan untuk berzikir, berdoa atau membaca Al-Quran, jika ia disebut dengan sengaja dan saja-saja tanpa sebarang tujuan, maka ini termasuk percakapan yang membatalkan solat.
Sabda Rasulullah SAW:

إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ

“Sesungguhnya solat ini tidak boleh di dalamnya percakapan manusia; kerana solat itu ialah tasbih, takbir dan membaca Qur’an.” (H.R Muslim)
Dari Sahal bin Sa’ad As Sa’idi r.a., katanya:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَهَبَ إِلَى بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمْ فَحَانَتْ الصَّلَاةُ فَجَاءَ الْمُؤَذِّنُ إِلَى أَبِي بَكْرٍ فَقَالَ أَتُصَلِّي لِلنَّاسِ فَأُقِيمَ قَالَ نَعَمْ فَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ فِي الصَّلَاةِ فَتَخَلَّصَ حَتَّى وَقَفَ فِي الصَّفِّ فَصَفَّقَ النَّاسُ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ لَا يَلْتَفِتُ فِي صَلَاتِهِ فَلَمَّا أَكْثَرَ النَّاسُ التَّصْفِيقَ الْتَفَتَ فَرَأَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَشَارَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ امْكُثْ مَكَانَكَ فَرَفَعَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَدَيْهِ فَحَمِدَ اللَّهَ عَلَى مَا أَمَرَهُ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ ذَلِكَ ثُمَّ اسْتَأْخَرَ أَبُو بَكْرٍ حَتَّى اسْتَوَى فِي الصَّفِّ وَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ يَا أَبَا بَكْرٍ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَثْبُتَ إِذْ أَمَرْتُكَ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ مَا كَانَ لِابْنِ أَبِي قُحَافَةَ أَنْ يُصَلِّيَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لِي رَأَيْتُكُمْ أَكْثَرْتُمْ التَّصْفِيقَ مَنْ رَابَهُ شَيْءٌ فِي صَلَاتِهِ فَلْيُسَبِّحْ فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ الْتُفِتَ إِلَيْهِ وَإِنَّمَا التَّصْفِيقُ لِلنِّسَاءِ

“Rasulullah SAW pergi ke kampung Bani ‘Amru bin ‘Auf untuk mengadakan perdamaian sesama mereka. Kebetulan waktu solat tiba.
Muadzin datang kepada Abu Bakar dan berkata, “Mahukah kamu mengimami solat?”Biarlah aku yang qamat.” “Baiklah!” jawab Abu Bakar. Ketika Abu Bakar sedang solat. Tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan terus maju hingga sampai ke saf (pertama).
Orang-orang bertepuk, tetapi Abu Bakar tidak menoleh. Ketika tepukan tangan bertambah banyak barulah dia menoleh dan terlihat kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW memberi isyarat kepada Abu Bakar supaya dia tetap ditempatnya. Tetapi Abu Bakar mengangkat tangannya dan memuji Allah ‘Azza wa Jalla atas suruhan Rasulullah SAW itu. Kemudian dia mundur hingga sejajar dengan saf, sedangkan Rasulullah SAW maju ke depan mengimami solat selanjutnya.
Setelah selesai solat, baginda bertanya kepada Abu Bakar, “Hai, Abu Bakar! Apa sebabnya kamu tidak mahu, ku suruh tetap ditempatmu menjadi imam?”
Jawab Abu Bakar, “Tidaklah elok bagi anak Abu Quhafah untuk solat mengimami Rasulullah SAW.”
Kemudian baginda bertanya kepada jama’ah, “Aku lihat kamu semua ramai bertepuk tangan, mengapa? Siapa yang hendak mengingatkan sesuatu dalam solat hendaklah dia tasbih (membaca ‘subhanallah’) kerana apabila dia tasbih orang akan melihat kepadanya. Sedangkan bagi kaum wanita bertepuk tangan.” (H.R Bukhari & Muslim)
Jumhur Ulama membenarkan tasbih dan tahmid selain dari waktu rukuk dan sujud, samada dengan tujuan mengingatkan orang lain ataupun tidak. (al-Majmu’:4/93-99)
Wallahu a3lam

solat istikrah(memohon petunjuk)

Shalat Istikharah

Oleh
MUHAMMAD
FAYYADH BIN AZMI

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mensyariatkan umatnya agar mereka memohon pengetahuan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala urusan yang mereka alami dalam kehidupan mereka, dan supaya mereka memohon kebaikan didalamnya. Yaitu, dengan mengajarkan kepada mereka shalat istikharah sebagai pengganti bagi apa yang biasa dilakukan pada masa jahiliyyah, berupa ramal-meramal, memohon kepada berhala dan melihat peruntungan.
Shalat ini adalah seperti yang disebutkan di dalam hadits berikut.
Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita ; ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan istikharah kepada kami dalam (segala) urusan, sebagaimana beliau mengajari kami surat dari Al-Qur’an. Beliau bersabda:
“Jika salah seorang di antara kalian berkeinginan keras untuk melakukan sesuatu, maka hendaklah dia mengerjakan shalat dua rakaat di luar shalat wajib, dan hendaklah dia mengucapkan : (‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk kepada-Mu dengan ilmu-Mu, memohon ketetapan dengan kekuasan-Mu, dan aku memohon karunia-Mu yang sangat agung, kerana sesungguhnya Engkau berkuasa sedang aku tidak kuasa sama sekali, Engkau mengetahui sedang aku tidak, dan Engkau Maha mengetahui segala yang ghaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahawa urusan ini (kemudian menyebutkan langsung urusan yang dimaksud) lebih baik bagi diriku dalam agama, kehidupan, dan akhir urusanku” –atau mengucapkan : “Baik dalam waktu dekat maupun yang akan datang-, maka tetapkanlah ia bagiku dan mudahkanlah ia untukku. Kemudian berikan berkah kepadaku dalam menjalankannya. Dan jika Engkau mengetahui bahawa urusan ini buruk bagiku dalam agama, kehidupan dan akhir urusanku” –atau mengucapkan: “Baik dalam waktu dekat maupun yang akan datang-, maka jauhkanlah urusan itu dariku dan jauhkan aku darinya, serta tetapkanlah yang baik itu bagiku di mana pun kebaikan itu berada, kemudian jadikanlah aku orang yang ridha dengan ketetapan tersebut), Beliau bersabda : “Hendaklah dia menyebutkan keperluannya” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1).
Dapat saya katakan, di dalam hadits tersebut terdapat beberapa manfaat yang dapat dipetik, yaitu:
Pertama : Di dalam hadits ini, shalat istikharah disyariatkan. (2)
Kedua ; Di dalamnya juga terkandung pengertian bahawa shalat istikharah itu disyariatkan dalam segala urusan, baik urusan itu besar maupun kecil, penting maupun tidak
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan :”Shalat istikharah itu disunnatkan dalam segala urusan, sebagaimana yang secara jelas disampaikan oleh nash hadits shahih ini’ (3)
Juga perlu saya katakan, bahawa mengerjakan semua kewajiban dan meninggalkan semua yang diharamkan serta menunaikan semua yang disunatkan dan meninggalkan yang makruh tidak perlu shalat istikharah
Memang benar, shalat istikharah ini mencakup yang wajib dan yang sunnat yang harus dipilih serta hal-hal yang waktunya cukup luas. (4)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan :”Shalat istikharah ini mencakup urusan-urusan besar maupun kecil. Berapa banyak masalah kecil menjadi sumber masalah besar?” (5)
Ketiga : Di dalamnya juga terdapat pengertian bahawa shalat istikharah itu dua rakaat di luar shalat wajib.
Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan :”Yang tampak bahawa shalat istikharah ini dapat dikerjakan dengan dua rakaat shalat sunnat rawatib, tahiyatul masjid, dan shalat-shalat sunnat lainnya. (6)
Perlu saya katakan, maksudnya –wallahu a’lam- jika ada keinginan untuk melakukan suatu hal, maka hendaklah segera mengerjakan shalat istikharah ini. Dan menurut lahiriyah ungkapan Imam An-Nawawi rahimahullah, sama saja shalat itu diniati dengan niatkan istikharah maupun tidak. Dan itu juga yang tampak pada lahiriyah hadits.
Al-Iraqi mengemukakan : jika keinginan melakukan sesuai itu muncul sebelum mengerjakan shalat sunnat rawatib atau yang semisalnya, lalu dia mengerjakan shalat dengan tidak berniat untuk beristikharah, kemudian setelah shalat muncul keinginan untuk memanjatkan do’a istikharah, maka secara lahir, hal tersebut sudah mencukupi. (7)
Keempat : Di dalamnya disebutkan : “Istikharah itu tidak mampu dilakukan pada saat ragu-ragu, kerana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.
“Jika salah seorang di antara kalian mempunyai keinginan untuk melakukan sesuatu. Dan, kerana semua do’a menunjukkan kepada hal tersebut”.
Dan jika seorang muslim merasa ragu dalam suatu hal, maka hendaklah dia memilih salah satu dari kedua hal tersebut dan memohon petunjuk dalam menentukan pilihan tersebut. dan setelah istikharah, dia biarkan semua berjalan apa adanya. Jika baik, mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan padanya dan memberikan berkah kepadanya dalam hal tersebut. Dan jika tidak, mudah-mudahan Dia memalingkan dirinya dari hal tersebut serta memudahkan kepada yang lebih baik dengan seizin-Nya yang Mahasuci lagi Mahatinggi.
Kelima : Selain itu, di dalamnya juga terkandung pengertian, tidak ada penetapan bacaan surah atau beberapa ayat tertentu pada kedua rakaat tersebut setelah bacaan Al-Fatihah. (8)
Keenam : Di dalamnya juga terkandung pengertian bahawa pemilihan itu terlihat dengan dimudahkannya urusan itu dan diberikannya berkah padanya. Dan jika tidak demikian, maka orang yang beristikharah itu akan dipalingkan darinya dan diberikan kemudahan padanya untuk memperoleh kebaikan dimana pun kabaikan itu berada.
Ketujuh : Selain itu, jika seorang muslim mengerjakan shalat istikharah, maka akan terlihat apa yang dia inginkan, baik dadanya lapang atau tidak. (9)
Az-Zamlakani mengatakan :”Jika seseorang mengerjakan shalat istikharah dua rakaat untuk suatu hal, maka hendaklah setelah itu dia melakukan apa yang tampak olehnya, baik hatinya merasa senang maupun tidak, kerana padanya kebaikan itu berada sekalipun jiwanya tidak menyukainya”. Lebih lanjut, dia mengatakan, “Di dalam hadits tersebut tidak ada syarat adanya kesenangan diri’ (10)
Kelapan : Saat pemanjatan do’a istikarah itu berlangsung setelah salam. Yang demikian itu didasarkan pada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Jika salah seorang di antara kalian berkeinginan keras untuk melakukan sesuatu, maka hendaklah dia mengerjakan shalat dua rakaat di luar shalat wajib, dan hendaklah dia mengucapkan ..”
Kerana lahiriyahnya do’a itu dipanjatkan setelah mengerjakan shalat dua rakaat, yaitu setelah salam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat bahawa do’a istikharah itu dipanjatkan sebelum salam. (11)
(Disalin dari kitab Bughyatul Mutathawwi Fii Shalaatit Tathawwu, Edisi Indonesia Meneladani Shalat-Shalat Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Penulis Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i)
__________
Foote Note
(1). Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di beberapa tempat yang di antaranya adalah di dalam Kitaabut Tahajjud, bab Maa Jaa-a fi Tathawwu Matsna Matsna (no 1162). Dan lihat juga kitab Jaami’ul Ushuul (VI/250-251)
(2). Nailul Authaar (III/88) dan juga kitab, Tuhfatudz Dzaakiriin (hal. 134)
(3). Al-Adzkaar (III/355 –dengan syarah Ibnu Allan)
(4). Fathul Baari (XI/184)
(5). Idem
(6). Al-Adzkaar (III/354 –dengan syarah Ibnu Allan)
(7). Beliau nukil dalam kitab Nailul Authar (III/88). Namun, pendapat tersebut ditentang oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitab, Fathul Bari (XI/185), di mana dia mengatakan, ‘Dapat dikatakan, jika dia berniat mengerjakan shalat tersebut dan shalat istikharah secara bersamaan, maka hal tersebut dibolehkan. Berbeza jika dia tidak berniat sebelumnya dan terpisah dari shalat tahiyatul masjid misalnya. Sebab, yang dimaksudkan dengan shalat istikharah di sini adalah pemanfaatan kesempatan untuk berdo’a. Dan yang dimaksud dengan shalat istikharah adalah dikerjakannya shalat yang disertai dengan bacaan do’a setelahnya atau pada saat shalat itu dikerjakan. Dan terlalu jauh untuk dipenuhi bagi orang yang mengajukan permintaan setelah shalat. Kerana lahiriyah hadits tersebut, hendaknya shalat dan do’a itu dilakukan setelah adanya keinginan.
Dapat saya katakan, bahawa lahiriyah khabar ini tidak terdapat pensyaratan tentang penetapan dua rakaat. Yang jelas, kedua rakaat itu bukan shalat fardhu. Jika seorang muslim menginginkan sesuatu, lalu dia mengerjakan dua rakaat shalat rawatib Zhuhur misalnya, lalu setelahnya dia membaca do’a istilkharah, maka telah tercapai apa yang dikerjakannya itu, dan itu lahiriyah yang tampak, sebagaimana yang telah dikupas oleh Imam An-Nawawi dan Al-Iraqi terdahulu. Wallahu ‘alam.
(8). Di dalam kitab Al-Adzkaar, (III/354 –dengan syarah Ibnu Allan), Imam An-Nawawi menyebutkan bahawa di dalam kedua rakaat tersebut dibaca surat Al-Kaafiruun dan surat Al-Ikhlas.
Al-Iraqi mengatakan : “Saya tidak mendapatkan satu pun dari beberapa jalan hadits ini tentang penetapan bacaan dalam kedua rakaat shalat istikharah, tetapi apa yang disampaikan oleh Imam An-Nawawi sudah tepat ..’ Syarh Al-Adzkaar, Ibnu Allan(III/345).
Dapat saya katakan, ketetapan tersebut tidak disebutkan pada pensyariatan dan penetapan. Wabillahit taufiq
(9). Hal ini jelas berbeza dengan Imam An-Nawawi saat dia mengatakan :”Dan jika dia mengerjakan shalat istikharah, maka setelahnya, dadanya akan terbuka lebar untuknya”. Al-Adzkaar (III/355-356 –dengan syarah Ibnu Allan-). Dan dia telah bersandar pada hadits dhaif jiddan dalam hal tersebut. Fathul Baari (XI/187).
Dan Al-Izz bin Abdis Salam telah mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh An-Nawawi, bahawa orang yang beristikharah itu akan berjalan kepada apa yang dikehendaki, baik dirinya terbuka untuk itu atau tidak. Al-Iraqi menarjih fatwa tersebut dan menolak pendapat Imam An-Nawawi. Dan dia disetujui oleh Ibnu Hajar. Syarh Al-Adzkaar li Ibni Allan III/357.
(10). Thabaqaat Asy-Syafi’iyyah, At-Taaj Ibnus Subki (IX/206)

petua ..mari baca

Petua Agar Dapat Melakukan Shalat Tahajjud

Oleh
fayyadh

Ada beberapa tips yang dapat membantu seseorang untuk bangun di malam hari guna melakukan shalat Tahajjud. Di antaranya adalah.
(1). Mengetahui keutamaan shalat Tahajjud dan kedudukan orang yang melakukannya di sisi Allah Ta’ala serta segala apa yang disediakan baginya berupa kebahagiaan di dunia dan akhirat, bagi mereka disediakan Syurga.
Allah Ta’ala bersaksi terhadap mereka dengan kesempurnaan iman, dan tidak sama antara mereka dengan orang-orang yang tidak mengetahui. Shalat Tahajjud sebagai sebab masuk ke dalam Syurga, ditinggikannya derajat di dalamnya, dan shalat Tahajjud merupakan sifat hamba-hamba Allah yang shalih serta kemuliaan bagi seorang Mukmin.
(2). Mengetahui perangkap syaitan dan usahanya agar manusia tidak melakukan shalat malam.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai seorang laki-laki yang tidur hingga datang waktu fajar,
“Itulah seseorang yang syaitan telah kencing di telinganya -atau beliau bersabda- di kedua telinganya.” (1)
‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma mengatakan, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda
“Wahai ‘Abdullah, jangan kamu menjadi seperti si fulan, dahulu dia biasa melakukan shalat malam, kemudian meninggalkannya” (2)
(3). Memendekkan angan-angan dan banyak mengingat mati.
Hal ini dapat memberi semangat untuk beramal dan dapat menghilangkan rasa malas, berdasarkan hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang yang asing atau orang yang sedang menyeberangi jalan.”
Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma mengatakan, “Apabila berada di pagi hari, janganlah engkau menunggu waktu petang. Dan apabila berada di petang hari, janganlah engkau menunggu waktu pagi. Pergunakanlah waktu sihatmu sebelum datang waktu sakitmu, dan pergunakan waktu hidupmu sebelum datang kematianmu.” (3)
(4). Tidur di awal malam agar memperoleh kekuatan dan semangat yang dapat membantu untuk melakukan shalat Tahajjud dan shalat Shubuh.
Hal ini berdasarkan hadits Abu Barzah radhiyallaahu ‘anhu.
“Bahawasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya’ dan berbincang-bincang setelahnya.”(4)
(5). Mempergunakan kesihatan dan waktu luang (dengan melakukan amal shalih) agar pahala kebaikannya tetap ditulis pada saat ia sakit atau sedang safar.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,
“Apabila seorang hamba sakit atau safar, ditulislah baginya pahala perbuatan yang biasa ia lakukan ketika mukim dan sihat.” (5)
Maka orang yang berakal hendaklah tidak terluput dari keutamaan yang agung ini. Hendaklah dia melakukan shalat Tahajjud ketika sedang sihat dan memiliki waktu luang serta melakukan berbagai amal shalih sehingga ditulislah pahala baginya apabila dia lemah atau sibuk dari melakukan amal kebaikan yang biasa ia lakukan.
(6). Bersungguh-sungguh mengamalkan adab-adab sebelum tidur.
Yaitu, dengan tidur dalam keadaan suci, apabila masih mempunyai hadats hendaklah ia berwudhu’ dan shalat sunnah dua raka’at, membaca dzikir sebelum tidur, mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu ditiupkan serta dibacakan padanya surat al-Ikhlaash, al-Falaaq, dan an-Naas. Kemudian usaplah dengan kedua tangannya itu seluruh anggota badan yang dapat dijangkaunya (lakukan hal ini tiga kali). Jangan lupa juga membaca ayat Kursi, dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah, dan membaca do’a sebelum tidur. Dia juga harus melakukan berbagai sebab yang dapat membangunkannya untuk shalat, seperti meletakkan jam loceng di dekat kepalanya atau dengan berpesan kepada keluarganya atau temannya atau tetangganya untuk membangunkannya.
(7). Memperhatikan sejumlah sebab yang dapat membantu untuk melakukan shalat Tahajjud.
Yaitu, dengan tidak terlalu banyak makan, tidak membuat badannya lelah dengan melakukan pekerjaan yang tidak bermanfaat, bahkan seharusnya dia mengatur pekerjaannya yang bermanfaat, tidak meninggalkan tidur siang kerana itu dapat membantu bangun di malam hari, dan menjauhi dosa dan maksiyat. Disebutkan dari Sufyan ats-Tsauri rahimahullaah beliau berkata, “Selama lima bulan aku terhalang untuk melakukan shalat malam kerana dosa yang aku lakukan.” (6)
(Disalin dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Syurga “Panduan Menuntut Ilmu”, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO BOX 264 – Bogor 16001 Jawa Barat – Indonesia, Cetakan Pertama Rabi’uts Tsani 1428H/April 2007M)
__________
Foote Notes
(1). Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1144, 3270) dan Muslim (no. 774), dari Shahabat Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu.
(2). Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1152) dan Muslim (no. 1159 (187)).
(3). Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6416), Ahmad (II/24, 132), at-Tirmidzi (no. 2333), Ibnu Majah (no. 4114), dan al-Baihaqi (III/369).
(4). Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 568) dan Muslim (no. 461), lafazh ini milik al-Bukhari.
(5). Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 2996), dari Shahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallaahu ‘anhu
(6). Lihat kitab Qiyaamul Lail, Fadhluhu wa Aadaabuhu wal Asbaabul Mui’iinatu ‘alaihi fii Dhau-il Kitaabi was Sunnah (hal. 50-58).

apalah nsb kentut??jom baca

was-was kentut, camne ni?


`Abd Allah b. Zayd b. Âsim telah mempersoalkan kepada Rasulullah SAW bahawa seseorang boleh merasakan dia telah terkentut ketika didalam Solatnya. Berkenaan ini Rasulullah SAW berkata : “Jangan berganjak dari tempat kamu kecuali kamu dengar atau bau sesuatu(keluar kentut)” Hadith ini sahih diriwayatkan didalam Sahîh al-Bukhârî dan Sahîh Muslim.
Terdapat hadith yang hampir sama diriwayatkan oleh Abû Sa`îd al-Khudrî bahawa Rasulullah Saw berkata “Jika Syaitan mendekati kamu dengan berkata “kamu telah terbatal wudhu kamu”, katakan kepada ia menipu, kecuali kamu dengar atau bau sesuatu(keluar kentut)” [Mustadrak al-Hâkim (1/134), Sahîh Ibn Hibbân (2663 and 2664), Musnad Ahmad (3/12), and Sunan Abî Dâwûd (1029)]

Dalam riwayat dari Sahîh Ibn Hibbân menyebut “……… kemudian dia perlu berkata pada dirinya sendiri ‘kamu telah menipu’……”
Ini adalah hadith masyhur yang menjadi bukti yang membentuk satu kaedah dalam hukum Syara’ iaitu “Sesuatu yang pasti tidak dapat dihapuskan dengan was-was”. Ini bermaksud apa-apa yang terbina atas keyakinan memerlukan bukti yang kukuh untuk menunjukkan sebaliknya. Ketidakpastian (was-was) tidak mencukupi untuk memansuhkannya(keyakinan). Hukum ini menjadi prinsip yang luas dan mustahil untuk menyebutkan kesemuanya.

Implikasi hukum terhadap Hadith tersebut.
Hukum terpenting yang dibentuk dari hadith ini adalah berkenaan seorang yang telah berwudhu dan tidak pasti adakah dia telah terbatal ataupun tidak.
Jumhur ulama’ termasuk Imam Abû Hanîfah, Imam al-Shâfi`î, dan Imam Ahmad b. Hanbal, menyatakan ketidakpastian (was-was) perlu diabaikan setiap masa. Ini juga disebut oleh Imam Mâlik.
Akan tetapi terdapat 2 pendapat lain yang disandarkan kepada Imam Mâlik tentang perkara ini. Salah satu pendapat itu ialah ketidakpastian(was-was) membatalkan wudhunya. Tetapi riwayat ini adalah dhaif dan bertentangan dengan maksud yang jelas dari hadith-hadith yang sahih.
Pendapat ke-3 yang disandarkan kepada Imam Mâlik ialah jika was-was berlaku diluar solat , maka dia perlu mengambil wudhu yang baru, tetapi jika was-was berlaku di dalam solat, maka dia perlu abaikannya. Pendapat ini amat pelik kerana apa yang membatalkan wudhu di luar solat sudah pastinya membatalkan wudhu didalm solat.
Menurut Ibn Hajar al-`Asqalâni di dalam Fath al-Bârî (1/287) : “Riwayat yang menerangkan penbahagian tersebut tidak boleh disandarkan kepada Imam Malik , Ia hanyalah perkataan pelajarnya”
Kita boleh katakan, tanpa syak lagi, pendapat yang benar tentang perkara ini adalah pendapat Jumhur Ulama – bahawa keraguan tidak membawa sebarang faedah. Seorang akan kekal dalam keadaan berwudhu sehingga dia pasti dia telah terbatal.

Aplikasi Hukum
1) Jika seseorang dalam keadaan bersuci , terasa dia telah terkentut, ini tidak membawa apa-apa makna.Dia perlu benar-benar pasti untuk membuktikan wudhu’nya telah terbatal.
2) Jika seseorang tahu dia dalam keadaan wudhu’ dan was-was bahawa dia telah membuang air, dia perlu abaikannya.
3) Jika seseorang dalam keadaan suci kemudian dia tertutup mata sebentar kerana mengantuk dan tidak pasti dia telah tertidur(lama) untuk wudhu’nya terbatal , maka dia perlu menganggap dia masih dalam keadaan suci.
Dalam keadaan ini atau situasi yang hampir serupa, seseorang perlu mengabai was-wasnya. Begitu juga, jika seseorang tidak pasti air kolah telah tercemar dengan najis atau tidak , dia perlu mengaggapnya ia masih bersih. Sama juga berkenaan baju, tempat solat, dan makanan yang ingin dimakan. Ini adalah hukum asas dalam semua masalah berkenaan bersuci dan keharusan, yang mana keyakinan(kepastian) adalah penting untuk mengisytiharkan sesuatu(kesucian) itu sebaliknya.

Hukum ini – cara fikir ini – menutup pintu kepada ketidakpastian(was-was) dan keraguan yang dialami oleh sebilangan besar umat Islam.
Tambahan, para ulama’ telah Ijma’ apabila Rasulullah SAW berkata: “Kecuali kamu mendengar bunyi atau bau sesuatu” Beliau bukanlah memaksudkan kepada 2 perkara itu sahaja, - Beliau hanyalah menerangkan tentang tahap keyakinan yang perlu ada dalam keadaan tersebut.

Al-Khattâbî menyebut dalam I`lâm al-Hadîth (1/227-228): “Rasulullah SAW tidak bermaksud hukum ini terhad kepada isu kentut dan 2 cara memastikannya. Jawapan Rasulullah SAW, bersesuaian dengan soalan yang dikemukakan. Maksudnya boleh diperluaskan kepada tahi , kencing, air madzi, air mani, darah, dana apa-apa yang boleh membatalkan kesucian seseorang.”
| Sheikh Salman al-Oadah|
Diterjemahkan oleh:
FAZH
Institut al-Imam asy-Syafie Consultant dan Training

PMpn pakai sluar..agak2...boleh k x????

Perempuan pakai seluar


apakah hukum perempuan pakai seluar?
adakah kitab rujukannya?

jawapan:

al-Jawab:

Boleh,

dalilnya:
من لم يجد إزارا فليلبس سراويل
Dari Ibn Abbas ra, Nabi saw bersabda,” Sesiapa yang tidak ada sarung, hendaklah memakai seluar panjang.” [sahih Bukhari (5804)]
Hukum ini umum, bagi perempuan dan lelaki. Tapi seluar perempuan hendaklah berlainan dengan seluar lelaki kerana mereka tidak boleh sama dalam bentuk penampilan diri dalam berseluar. Dalilnya:
لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم المتشبهين من الرجال بالنساء ، والمتشبهات من النساء بالرجال
Terjemahnya: Dari Ibn Abbas ra: ” Dilaknat RasuluLlah ke atas pria yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai pria.” [Bukhari, 5885]
Seluar perempuan hendaklah berlainan dari lelaki, misalnya designya, longgar dan ada jilbab (outer garment) yang menutupi figur (bentuk badannya, terutama pinggul dan pahanya. Dalilnya:
ونساء كاسيات عاريات
Dari Abu Hurayrah ra, bahawa Nabi saw pernah melihat ahli Neraka…terdiri dari wanita yang berpakaian tapi (masih) telanjang..”
[sahih Muslim, 2128]
Ini pendapat dalam madzhab Syafi’iy melalui Imam Rafi’iy (syarh alMuhadzaab,5/92).
Tapi madzhab Hanbali, yang diamalkan di KSA mengharamkan terus pemakaian seluar panjang oleh perempuan (jika tidak mengenakan abaya (pakaian luar). Misalnya Fatawa Mar’atil Muslimah (3/851), begitu juga pendapat al-Albani ketika membuat radd (bantahan) kepada pendapat arRafi’iy dalam alJilbab (159).
Rumusan:
1. wanita boleh memakai seluar jika seluar itu berlainan dari fesyen lelaki, tidak ketat, dipakai pakaian luar menutupi pinggulnya
2. Terdapat fatwa yg keras dari KSA bahawa wanita ditegah dari memakai seluar panjang yang ketat dan menampakkan pinggulnya. sekian WA

perjuangan akan tetap diteruskan untuk hidup berlandaskan syariat islam

Apabila bicara,berkata sahaja tntg perjuagan mesti terlintas difikiran bahwa mst bermatian2 dlam peperangan...
istilah perjuangan bukan shaja diguna pakai dalam peperangan sje adik2..tetapi perjuangan ini boleh digunakan dalam apa jua bentuk dan keadaan yang bersesuaian..seronok tau berjuang ni...mcm2 akan kita nikmatinya...PERCAYA la...
cuba adik2 lihat...ada ke orang brjuang hasilnya satu kesedihn...tak derkan,smuanya akan terasa kegembiran..btol x...
itulah hebatnya jika kita berjuang adik2...
MARI KITA SAMA2 BERJUANG DIJALAN ALLAH...
MARI KITA SAMA2 LAKUKAN KEBAIKAN
MARI KITA SAMA2 MNCEGAH KEMUNGKARAN
MARI KITA MENADAH DOA KPD YANG MAHA ESA

Adik2...
ingtlah pesan kedua ibubapa kita,kerana pesanan mereka akan dibawa smpai bila2...
dan pesanan mereka hanya sekali jew adik2...
adik berjuanglah apa sekali pon..yang paling pentg tidak berlawanan dgn aqidah adik2 sbagai seorg muslim yang soleh..
perjuangan adik2 dalam jasmani,rohani dan sbgainya..berjuang dan terus berjuang demi mgecapi kebhagian didunia dan diakhrt..
InsyaAllah...
kita sama2 boleh lakukan ia...
mari adik2...kita pimpin tangan sahabt2 kita yang lain..ajak mereka ingt Allah...
dan juga bgth mereka bahwa
amalan yang mereka lakukan itu adalh untk Nya..untk di Atas..bukan untk dipuji bukan untk mndpat perhatian....
ttp mlah untk mncr seberapa banyak amalan ...InsyaALLAH

segala2nya kerana ibadat kpd Mu

assalamualaikum smua.hai apa khabr?ana harap kamu smua sht dsisi Allah swt..dpt mnyempurnakan segala perintanhNya dan juga mnjauhi segala laranaganNya..insayAllah..mudah-mudahan kita tergolong orang2 yang beriman..
Hari ini ana sangat2 letih..pada siang hari selepas jew bgn subuh..ana mandi n solat seperti biasa.selpas tu mcm biasa la...tdo la blik..heheh..smbng mimpi tu...eheheh...tp mmpi tu dah xsama dgn mmpi pertama..aduhai sedih snguh..huhuhu..potong line btol la..=)..tp takper itukan khayalan mmpi..kalau adik2 perasankan mimpi ini melalaikan kita untuk bangkit pada wktu subuh...yea nya permainan syaitan yang mnyuruh kita nie smbung tdo lg..btol x?masyaALLAH...syaitan ni memg teruk,smpaikan berusaha ntk mnyesatkan mnusia,melalaikan kita drpd mngingti yang Maha Esa..ALLAH..selpas bgn pada jam 9.00 pg ..ana siap2 la ntk ke kelas pda pg tu...huhu..tiba dikelas mcm biasa,,bkak buku,potpet2 kat blkng,ttp buku,kluar kelas n then makan lpas tu kelas lg..rutin yang sama dan sbgainya...bila tiba drumah bukak buku smula...terus tak fahm...adoi..ruginye...eii setan ni...(jgn gnggu aku blh x) heheh..tp apapun ana beusaha juga ntk fham apa yg ana pelajri pada siang td..
Banyak sungguh kerja yang perlu disiapkan ...ish3...mcm dah kerja plk kan..huhu..smpaikan tak tdow mlm dibuatnya...
ESOK KELAS GANTI PULA....KELAS AGAMA ..seronoknya....dan juga kelas marketing..huhuhu....produk xdpat lagi nk buatnye..tengah fikir la ni..huhu...ada sapa yang blh tolong ana..hhehehe..
semua ni kerana ingn belajar,mnambah ilmu pngthuan dan sbagainya..insyaAllah..btol x?
kene la kerja kuat sikit..huhuh..untk bekalan,,,=)